Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah Part 3

Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah
Part 3

Posisi dan kedudukan khalifah sangat baik sesudah keturunan Seljuk menjadi penguasa, kewibaan dalam bidang agama dikembalikan setelah sekian lama dirampas oleh kaum Syi’ah walaupun wilayah Baghdad dapat dikuasai. Tughrul Bek memilih Naisabur dan lalu Ray sebagai pusat kepemerintahannya, keturunan – ketururnan kecil yang awalnya memisahkan diri setelah dikalahkan oleh keturunan Seljuk, kembali mengakui Baghdad, bahkan mereka menjaga ketentraman dan keutuhan bangsa. Abbasiyah agar mendukung faham Syi’ah dan memajukan mazhab Sunnu yang di percayai mereka. Setelah wafat Tughrul Bek pada tahun 455 Hijriah ( 1063 Masehi ) keturunan Seljuk terus – menerus diperintah oleh  : Alp Aresal pada tahun 455 s/d 465 Hijriah ( 1063 s/d 1072 Masehi ), Maliksyah pada tahun 465 s/d 485 Hiriah ( 1072 s/d 1092 Masehi ), Mahmud pada tahun 485 s/d 487 Hijriah ( 1092 s/d 1094 Masehi ), Barkiyaruq pada tahun 487 s/d 498 Hijriah ( 1094 s/d 1103 Masehi ), Maliksyah II pada tahun 498 Hijriah ( 1103 Maehi ), Abu Syuja’ Muhammad pada tahun 4998 s/d 511 Hijriah ( 1103 s/d 1117 Masehi ), dan Abu Haris Sanjar pada tahun 511 s/d 522 Hijriah ( 1117 s/d 1128 Masehi).  Kepemimpinan Seljuk dikenal dengan sebutan al-Salajikan al-Kubra yang artinya Seljuk besar dan Seljuk agung, Disamping itu ada sebagian pemerintahan Seljuk lainnya disebagian daerah sebagimna disebutkan sebelumnya, pada zaman Alp Arselan perluasan wilayah yang telah dimulai oleh Tughrul Bek dilanjutkan kearah Barat sampai pusat kebudayaan bangsa Romawi di Asia kecil,ialah Bizantium, Kejadian terpenting dalam perluasan kekuasaan ini ialah apa yang dikenal dengan kejadian Manzikart. Pasukan Alp Areslan berhasil melumpuhkan pasukan Romawi yang begitu besar  yang terdiri dari pasukan Romawi Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Prancis dan Armenia. Dengan ditaklukkannya Manzikrat pada tahun 1071 Masehi terbuka pula kesempatan bagi dirinya untuk melakukan suatu gerakan penturkian ( turkification ) di wilayah Asia kecil, gerakan ini diawali dengan mengankat Sulaiman ibn  Qulumish keponakan Alp Arselan sebagai seorang gubernur di wilayah ini. PAda tahun 1077 Masehi ( 470 Hijriah ), berdirinya kesultanan Seljuk Rum dengan pusat kotanya Iconim, sementara itu anak laki – laki Arselan Tutush, berhasil membangun keturunan Seljuk di daerah Syria pada tahun 1094 Masehi ( 487 Hijriah ) . Pada zaman Maliksyah daerah kekuasaan keturunan Seljuk begitu luas, dimulai dari Kashgor, salah satu wilayah di ujung wilayah Turki hingga ke Yarusalem daerah yang begitu luas itu dibagi menjadi 5 ( lima ) bagian :

  1. Seljuk Besar yang mengusai Khurasan, Ray, Jabal, Persia, Irak, dan Ahwaz. Dia meripakan Pusat dari yang lainnya dan jumlah Syekh yang memimpin berjumlah 8 ( delapan ) orang.
  2. Seljuk Kirman berada dibawah kepemimpinan keluarga Qawurt Bek ibn Daud ibn Mikail ibn Seljuk. Dan jumlah Syekh yang memimpin berjumlah 12 ( dua Belas ) orang.
  3. Seljuk Irak dan Kurdistan, pemimpin yang pertama ialah Mughris al-Din Mahmud. Seljuk ini secara bertahap di pimpin sebanyak 9 ( Sembilan ) Syekh.
  4. Seljuk Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan ibn Daud ibn Mikail ibn Seljuk dan jumlah syekh yang memerintah berjumlah 5 ( Lima ) orang.
  5. Seljuk Rum, dipimpin oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Seljuk jumlah syekh yang memerintah berjumlah seuanya 17 ( tujuh belas ) orang.

Disampping pembagian wilayah menjadi 5 ( lima ), yang dipimpin gubernur berpangkat syekh ataupun Malik, pemerintahan Seljuk mengembalikan jabatan perdana menteri yang dahulunya telah dihapus pada masa pemerintahan Bani Buwaih. Jabatana itu membawahi sebagian departemen. Pada zaman Alp Arselan, ilmu pengetahuan dan agama mulai terlihat kemajuannya pada masa Sultan Maliksyah yang dibantu oleh perdana menterinya yaitu Nizham al-Mulk. Perdana menteri ini juga mempelopori berdirinya Universitas Nizhamiyah pada tahun 1065 Masehi dan juga Madrasah Hanafiah Di wilayah Baghdad. Hampir di setiap penjuru kota Irak dan Khurasan dibangun cabang Nizhamiyah menurut Philip K. Hitti, Universitas Nizamiyah inilah yang telah menjadi contoh untuk semua perguruan tinggi dikemudian hari. Perhatian pemerintah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan sangat banyak melahirkan ilmuwan muslim pada waktu itu, diantaranya yaitu al-Qusyari dalam metode tafsir, Abu Hamid al- Ghazali dalam metode teologi, dan Farid al-Din al- Aththar dan Umar Khyam dalam metode sastra. Lain hanya pembangunan mental sepiritual dalam pembangunan fisik pun keturunan Seljuk banyak sekali meninggalkan jasa. Maliksyah dikenal juga dengan usaha pembangunan dibidang yang terakhir, salah satunya yaitu pembangunan Mesjid, jembatan, irigasi dan jalan raya yang telah dibangunnya, sesudah sultan Maliksyah dan perdana menteri Nazham al-Mulk meninggal dunia. Seljuk Besar mulai menghadapi zaman kemunduran dalam bidang politik, perebutan kekuasaan dilingkungan keluarga muncul, setiap wilayah berusaha melepaskan diri dari ibu kota, percekcokan dan peperangan antara keluarga menimbulkan kelemahan mereka sendiri. Sementara itu keturunan kecil memerdekakan diri seperti Syahat Khawarizm, Ghuz, dan al-Ghuriyah. Pada sisi lain perlahan kekuasaan politik khalifah juga kembali, terutama di Negara Iraqm kekuasaan keturunan Seljuk di wilayah Irak berakhir di genggaman Khawarizm Syah pada tahun 590 Hijriah ( 1199 Masehi ).

3.Perang Salib

Sebagaimna telah dijelaskan kejadian penting dalam gerakan memperluas wilayah yang dilakukan oleh Alp Arselan ialah kejadian Manzikrat, pada tahun 464 Hijriah ( 1071 Masehi ), pasukan perang Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 pasukan, dalam kejadian ini berhasil melumpuhkan pasukan Romawi yang berjumlah 200.000 pasukan perang Romawi. Ghuz, al-Akraj, al-Hajr,Prancis, dan Armenia. Kejadian besar ini menanamkan benih kebencian dan permusuhan golongan keristen terhadap kaum muslimin dan seterusnya mencetuskan perang salib. Kebencian itu bertanbah sesudah keturunan Seljuk dapat mengalahkan Bait al-Maqdis pada tahun 471 Hijriah dari penguasa keturunan Fathimiyah yang berkedudukan di wilayah Mesir, kekuasaan Seljuk menetapkan sebagian peraturan bagi kaum Kristen yang ingin berziarah ketanah suci umat Kristen pada tahun 1095 Masehi. Paus Urbanus II menyampaikan kepada kaum Kristen di wilayah Europa agar dapat melakukan perang suci. Peperangan ini dikenal sebagai perang salib, yang terjadi pada 3 ( tiga ) Priode yaitu :

  1. Priode ke -1

Pada musim semi ditahun 1095 Masehi. 150.000 pasukan orang Europa sabagian besar dari negri Prancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestine. Pasukan perang salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond mendapatkan kemenangan pada tanggal dan tahun 18 Juni 1097 mereka berhasil mengalahkan Nicea pada tahun 1098 Masehi menguasai Raha ( Edessa ) disini mereka membangun kerajaan Latin II di timur. Behmond diangkat menjadi rajanya mereka juga berhasil menempati Bait al-Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 Masehi dan membangun kerajaan Lati III dan Godfrey diangkat sebagai rajanya, sesudah mengalahkan Bait al-Maqdis pasukan salib melanjutkan perluasan kekuasaannya ke kota Akka pada tahun 1104 Masehi, Tripoli pada tahun 1109 Masehi dan kota Tyre pada tahun 1124 Masehi. Di Tripoli mereka membangun kerajaan Latin IV diangkat sebagai rajanya adalah Raymond.

Priode ke- 2

Imanudin Zanki raja Moshul dan Irak, berhasil mengalahkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 Masehi akan tetapi ia meninggal duia pada tahun 1146 Masehi. Tugasnya diteruskan oleh putranya yang bernama Nuruddin Zanki, Nuruddin Zanki berhasil menguasai kembali Antiochea di tahun 1149 Masehi dan di tahun1151 Masehi keseluruhan Edessa dapat dikuasai kembali. Kejatuhan Edessa ini menimbulkan para kaum Kristen mengobarkan perang salib kedua, Paus Eugenius III mengumumkan perang suci yang disabut oleh penguasa Prancis  Louis VII dan penguasa jerman Condrad II. Kedua penguasa itu memimpinPasukan salib untuk menguasai wilayah Kristen di daerah Syria, namun gerakan maju mereka dapat dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki wilayah Damaskus, Louis VII dan Condrad II melarikan diri dan pulang ke negaranya, Nuruddin meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi. Selanjutnya pemimpin perang di pegang oleh Salah al-Din al- Ayyubi yang berhasil membangun keturunan Ayyubiyah di wilayah Mesir pada tahun 1175 Masehi. Salah satu hasil pertempuran Shalah al-Din yang sangat beasar ialah dapat merebut kembali Yerusalem di tahun 1187 Masehi, dengan kata lain kekuasaan yang lainnya di wilayah Yurusalem yang berlangsung selam 88 ( delapan puluh delapan ) tahun berakhhir. Jatuhnya Yerusalem ke tangan umat Islam begitu memukul perasaan pasukan salib, merekapun merencanakan balas dendam. Kali ini pasukan salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, penguasa jerman, Richard the Lion Hart, penguasa Inggris dan Philip Augustus, penguasa Prancis, tentara ini bergerak ditahun 1189 Masehi, wlaupun mendapat tantangan begitu berat dari Shalah al-Din, tetapi mereka dapat mengalahkan dan merebut Akka yang selanjutnya dijadikan pusat kota kerajaan Latin. Namun mereka tidak berhasil  memasuki wilayah Palestina, pada tanggal 2 November 1192 Masehi dibuatkan lah perjanjian antara pasukan salib dan Shalah al-Din yang disebut dengan Shulh al-Ramlah diantar isi perjanjian tersebut ialah bahwa kaum keristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidakakan diganggu.

Priode ke- 3

Pasukan salib pada masa ini di pimpin oleh penguasa Jerman, Frederick II, mereka berniat merebut wilayah Mesir terlebih dahulu sebelum pergi ke wilayah Palestina, dan berharap dapat bantuan dari kaum kristenQibthi ditahun 1219 Masehi. Mereka berhasil merebut Dimyat, pemimpin Mesir dari keturunan Ayyubiyah waktu itu, Malik al-Kamil, membuat suatu perjanjian dengan Frederick yang berisi Fredrick bersedia melepaskan Dimyat, sementra Malik al-Kamil bersedia melepas Palestina dan Fredrick menjamin keamanan umat Islam disana. Sementara itu Fredrick tidak mengirimkan bantuan kepada kaum Kristen di wilayah Syria, dalam kemajuan selanjutnya Palestina dapat direbut kembali oleh umat Islam pada tahun 1247 Masehi. Di zaman kepemimpinan al-Malik al-Shalih, raja Mesir selanjutnya, dikala Mesir dikuasai keturunan Mamalik yang menggantikan posisi keturunan Ayyubiyah pemimpin perang di pegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada zaman merekalah Akka dapat dikalahkan oleh umat Islam, pada tahun 1291 Masehi.

Demikian perang salib yang berkobar di wilayah Timur. Dan peperangan ini berhenti di wilayah Barat, di wilayah Spanyol sampai kaum Muslimin terusir dari sana. Andaipun kaum Muslimin berhasil mempertahankan wilayah – wilayahnya dari pasukan salib, tetapi kerugian yang mereka derita sangat banyak sekali, sebab pertempuran itu terjadi diwilayahnya,  kerugian ini menyebabkan kekuatan politik kaum muslimin menjadi lemah, dalam keadaan seperti itu mereka malah terpecah belah, banyak keturunan kecil memisahkan diri dari kepemimpinan pusat Abbasiyah di wilayah Baghdad.

Terimaksih telah meluangkan waktu membaca artikel ini semoga apa yang kit abaca mendapatkan sebuah ilmu untuk para pembaca artikel ini kami harapkan dapat share / membagikan artikel ini ke teman – teman anda.

Diriwayatkan Oleh       : Dr. Badri Yatim. M.A.