Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah Part 2

Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah
Part 2

Pada zaman pemerintahan Bani Abbas, perebutan kekuasaan seperti ini juga terjadi terutama diawal berdirinya pemerintahan namun pada masa selanjutnya seperti terlihat pada masa jabatan kedua dan selanjutnya, walaupun khalifah tidak berdaya tidak ada upaya untuk merebut jabatan khalifah dari kaum Bani Abbas. Yang ada hanyalah upaya merebut kekuasaan dengan mengabaikan jabatan khalifah tetap dipegang oleh Bani Abbas, hal tersebut terjadi karna khalifat diamggapnya sebagai sebuah jabatan keagamaan yang sacral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat dibangun dipusat maupun diwilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk keturunan kecil yang telah merdeka. Para tentera Turki berhasil menaklukan  kekuasaan tersebut. Di gengga,am mereka khalifah dianggap sebagai boneka yamg tidak bisa berbuat apa – apa, bahkan mereka juga yang dapat memilih ataupun menjatuhkan khalifah sesuai keinginan politik mereka. Setelah kekuasaan berada di genggaman orang Turki pada masa jabatan kedua, dan pada masa jabatan ke tiga pada tahun 334 s/d 447 Hijriah ( 945 s/d 1055 Masehi ) kekuasaan Abbasiyah berada berada dibawah kekuasaan Bani Buwaih. Kedatangan Bani Buawih bernula dari tiga orang  putra Abu Syuja Buwaih, nelayan yang tinggal di daerah Dailam adalah Ali, Hasan, dan Ahmad. Untuk merubah dari keadaan yang sulit ketiga bersaudara ini masuk kedinas kemiliteran yang paada waktu itu di lihat dapat mendatangkan rezeky, pada awalmya mereka bergabung kepada pasukan Makan ibn Kali, salah seorang panglima perang dari Dailam, setelah ketenaran Makan ibn Kali memudar kemudian mereka bergabung kepada pasukan yang di pimpin oleh Panglima Mardawij sebab prestasi mereka Mardawij mengangkat Ali menjadi seorang gubernur al-Karaj, dan kedua sodaranya diberi jabatan penting lainnya. Bernula dari al-Karaj itulah  perluasan wilayah kekuasaan Bani  Buwaih berawal. Pertama kalimya Ali mengalahkan daerah di wilayah Persia, dan menjadikan Syiraz sebagai ibu kota pemerintahan. Ketika Murdawij wafat, Bani Buwaih yang bermarkas di Syiraz berhasil mengalahkan Persia seperti Ray,Isafahan, dan wilayah – wilayah Jabal. Ali berusaha mendapatkan pengakuan dari khalifah Abbasiyah, Al-Radhi Billah dan mengirimkan uang untuk pebendaharaan Negara  dan ia berhasil mendapatkan pengakuan itu, lalu ia melakukan perluasan daerah lagi ke wilayah Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari situlah para pasukan Buwaih menuju Baghdad untuk mengalahkan kekuasaan di pusat pemerintahan dan dikala itu Baghdad sedang mengalami kekisruhan politik desebabkan perebutan jabatan anir al-ummara antara wazir dengan pemimpin pasukan perang, para pemimpin pasukan perang meminta bantuan kepada Ahmad ibn Buwaih yang berada di Ahwaz, permintaan tersebut disetujui. Ahmad dan pasukannya tiba di wilayah Baghdad pada tanggal 11 Jumadil –Ula pada tahun 334 Hijriah ( 945 Masehi ) dia di sambut dengan baik oleh khalifah dan langsung diangkat menjadi amiral – umara ( penguasa politik Negara), dengan bergelar mu’izzal-daulah. Saudaranya Ali, yang memimpin dibagian wilayah slatan Persia dan pusatnya di wilayah Syiraz diberikan gelar rukn al-daulah, semenjak itu sebagaimana terhadap pemimpin – pemimpin militer Turki sebelumnya, khalifah – khalifah patuh kepada Bani Buwaih yaitu penganut aliran Syi’ah pemberotakan tentara dan sebagainya.

Setelah Baghdad dapat dikuasai, Bani Buwaih memindahkan markas kekuasaannyadari Syiraz ke Baghdad. Mereka mendirikan gedung tersendiri di tengah – tengah kota yang diberi nama Daral-mamlakah, walaupu demikian kendali politik yang sesungguhnya masih berada di Syiraz, tempatAli ibn Buwaih berada, (saudara tertua ) bertahta. Dengan kekuatan pasukan militer Bani Buwaih beberapa keturunan kecil yang sebelumnya memisahkan diri dari Baghdad seperti Bani Hamdan, di daerah Syria dan Iraq, keturunan Asmaniyah, dan Ikhsyisiyah. Dapat dikendalikan dan kembali ke Baghdad, sebagaimana khalifah – khalifah Abbasiyah masa jabatan pertama, para penguasa Bani Buwaihmencurahkan perhatiannya langsung dan bersungguh – sungguh dalam kemajuan ilnu pengetahuan san kesusastraan pada zamax Bani Buwaih banyak bermunculan para ilmuwan besar diantaranya yaitu Al-Farabi pada tahun 950 Masehi, Ibn Sina pada tahun 980 s/d 1037 Masehi, al-Farghani, Abu al-rahman al-Sufi pada tahun 986 Masehi, Ibn Maskawih pada tahun 1030 Masehi, Abu al-‘Ala al-Ma’arri pada tahun 973 s/d 1057 Masehi dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Jasa Bani Buwaih dapat dilihat pembangunan kanal- kanal, penbangunan mesjid – mesjid, mendirikan beberapa bangunan rumah sakit dan sejumlah bangunan umum lainnya, kemajuan tersebut diinbangi dengan kemajuan ekonomi, perdagangan, pertanian  dan industry yang utama permadani. Kekuasaan politik Bani Buwaih berlangsung tidak bertahan lama, setelah penerus pertama tiga bersaudara tersebut, kekuasaan menjadi ajang pertengkaran antara para keturunan mereka, setiap pihak merasa mempunyai hak atas penguasa pusat seperti pertengkaran antara Izza-Daulah Bakhtiar putra Mu’izzal-Daulah dan Adhad al-Daulah putra Imad al-Daulah, dalam perebutan kekuasaan amir al-ummara, perenutan kekuasaan dikalangan dinasti Bani Buwaih merupakan peristiwa intern yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahaan mereka. Peristiwa intern lainnya yaitu pertentangan dalam bidang kemiliteran antara golongan dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika gelar amir al-umara dijabat oleh Mu’izzal al-Daulah permasalahan itu dapat diselesaikan, akan tetapi jabatan itu di pegang oleh orang yang lemah masalah tersebut akan muncul kembali mengganggu keamanan dan dapat memnjatuhkan kepemerintahan. Sejalan semakin melemahnya kekuatan politik Bani Buwaih, semakin banyak juga gangguan dari luar yamg membawa suatu kemunduran dan kehancuran keturunan ini, sederetan peristiwa dari luar tersebut diamtaranya yaitu semakin gencar serangan Bizantium kedunia Islam, dan semakin banyaknya keturunan – keturunan kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat di Baghdad. Para keturunan itu diantarnya keturunan Fathimiyah yang memproklamasikan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Nesir, Ikhsyidiyah di Mesir dan Syriam Hamdan di Aleppo, dan lembah Furat, Ghazanawi di Ghaza dekat Kabul, dan keturunan Seljuk yang berhasil merebut kekuasaan dari genggaman Bani Buwaih.

Jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke genggaman Saljuk berawal dari perebutan kekuasaan didalam negri, saat al-Malik al-Rahim menjabat amir al-umara kekuasaan tersebut direbut oleh pamglimanya sendiri, Arselan al-Basasiri. Dengan kekuasaan yang ada digenggamannya, al-Basasiri  berbuat semena –mena kepada al-Malik al-Rahimdan khalifah al-Qaim dari Bani Abbas, bahkan ia mengundang khalifah Fathimiyah ( al-Mustanshir), untuk menguasai wilayah Baghdad, hal seperti ini memicu khalifah meminta bantuan kepada Tughril Bek dari keturunan Seljuk yang berada dinegri Jabal. Pada tanggal 18 Desember 1055 Masehi (447 Hijriah), pemimpin Seljuk itu memasuki wilayah Bghdad. Al-Malik al-Rahim, amir al-umara Bani Buwaih yang terakhir, dimasukan kedalam penjara. Dengan seperti itu berakhirlah kekuasaan Bani Buwaih, dan diawalilah kekuasaan keturunan Bani Seljuk, perganti kekuasaan ini pula menandakan awal masa jabatan ke empat khalifah Abbasiyah. Keturunam Bani Seljuk berasal dari kabilah kecil rumpu suku Ghuz dibaguan wilayah Turkistan pada abad ke 2 ( dua ), Ke 3 ( tiga ) dank e 4 ( empat ) Hiriah mereka pergi ke wilayah arah Barat menuju Transoxiana dah daerah Khurasan, dikala itu mereka belum bersatu mereka di persatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq, oleh sebab itu mereka sipanggil orang – orang Seljuk. Pada awalnya Seljuk ibn Tuqaq mengabdi kepada Bequ, ialah raja dari wilayah Turkoman yang meliputi wilayah sekitaran laut Arab dan laut Kaspia, Seljuk diangkat sebagai pemimpin pasukan tentara. Pengaruh Seljuk begitu besar sehinggga raja Bequ menghawatirkan posisinya terancam dan raja bertujuan untuk menyimgkirkan Seljuk. Mengetahui dirinya kan disingkirkan maka ia tidak mengambil sikap melawan ataupun memberoontak, akan tetapi bersama para pengikutnya ia bermigrasi ke wilayah Jand, atau sering disebut juga wama wara’a al-nahar, sebuah wilayah nuslim di daerah Transoxiana, diantara sungai Ummu Driya dan Dyrdarya atau Sihun. Merka menempati daerah ini atas ijin penguasa keturunan Samaniiyah yang menguasai wilayah tersebut.  Mereka masuk agama Islam dengan aliran Sunni, dikala keturunan Samaniyah dikalahkan oleh keturunan Ghaznawiyah, Seljuk menyatakan kemerdekaannya dan ia berhasil menguasai darah yang sebelumnya dikuasai oleh keturunan Samaniyah. Sesudah Seljuk wafat, anaknya melanjutkan kepemimpinannya yang bernama Israil, tetapi  Israil dan penerusnya Mikail, saudaranya dapat ditangkap oleh penguasa Ghaznawiyah dan kepemimpinan seterusnya Thugrul Bek, pemimpin Seljuk terakhir dan berhasil melumpuhkan Mas’ud al-Ghaznawiyah penguasa keturunan Ghaznawiyah pada tahun 429 Hijriah ( 1036 Masehi ). Dan menyuruh meninggalkan wilayah Khurasan, setelah keberhasilan tersebut, Tughrul memberitahukan secara resmi berdirinya keturuna Seljuk pada tahun 432 Hijriah ( 1040 Masehi ) keturunan ini mendapatkan pengakuan khalifah Abbasiyah di wilayah Baghdad. Diwaktu kepemimpinan Tughrul Bek inilah keturunan Seljuk memasuki wilayah Baghdad menggantikan posisi Bani Buwaih sebelumnya, Tughrul Bek berhasil melumpuhkan daerah Marwa dan Naisabur dari kekuasaan Ghaznawiyah, Balkh, Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray, dan Isfahan.

Demikianlah cerita tentang disintegrasi Bani Abbasiah episode ke 2 semoga mejadi ilmu yang berguna bagi para pembaca artikel ini untuk mendapatkan pemberitahuan tentang arikel selanjutnya harap like and share halaman ini dari kami mengucapkan banyak banyak terimaksih semoga Allah membalas kebaikan anda.

Diriwayatkan oleh       : Dr. Badri Yatim. M.A.