Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah Part1

Disintregrasi Masa Dinasti Abbasiyah
Part1

 

Hanya pada masa jabatan pertama kepemerintahan Bani abbas mencapai masa kesuksesannya dan pada priode sesudahnya. Kepemerintahan dinasti ini mulai menurun, pada bidang politik. Dalam masa jabatan pertama sesungguhnya banyak sekali tantangan dan gangguan yang dihadapi keturunan Abbasiyah, sebagian gerakan politik yang mengganggu pemerintahan dan mengganggu keamanan, yang bermunculan dimana – mana baik itu didalam lingkungan Bani Abbas ataupun diluar lingkungan Bani Abbas. Akan tetapi, semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Suatu keberhasilan kepemimpinan Abbasiyah dapat mengatasi kekacauan didalam negri ini maka memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagia salah satu pemimpin yang begitu tangguh. Kekuaasaan betul – betul berada ditangan Khalifah, keadaan ini sungguh berdeda masa jabatan sebelumnya, setelah jabatan pertama berlalu para khalifah sangat lemah. Para khalifah berada dibawah pengaruh kekuasaan yang lain. Kemajuan peradaban dan kebudayaan juga kemajuan besar yang tercapai keturunan Abbasiyah pada masa jabatan petama telah mendorong para pimpinan hidup sengan kemewahan, bahkan cevderung secara mencolok setiap para khalifah selalu berkeinginan hidup secara lebih mewah dari khalfah terdahulunya, kehidupan mewah para khalifah ini dicontoh oleh para hartawan dan para anak pejabat. Kehidupan yang sangat mewah, dan lagi ditambah dengan kelemahan khalifah dan daktor lainnya, mengakibatkan roda kepemerintahan terganggu dan kedaan rakyat menjadi miskin Keadaan seperti ini member kesempatan kepada pasukan bersenjata yang professional asal dari Turki yang asalnya diangkat oleh khalifah al-Mu’tashim untuk mengambil alih kepemerintahan dan usaha mereka berhasil sehingga kekuasaannya beralih kepada mereka. Semetara itu kekuasaan Bani Abbas didalam kepemimpinan Bani Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar, dan ini merupakam awal dari keruntuhannya keturunan ini, meskipun umur nya masih bisa bertahan lebih dari 400 tahun lamanya. Pilihan khalifah al-Mu’tashim kepada undur Turki dalam padukan ketentaraan terutama dilatarbelakangi adanya pesaing antara kaum Arab dan Persia pada zaman al-Ma’mun dan sebelumnya, akan tetapi, perebutan kekuasaan antara al-Amin dan al-Ma’mum disebabkan dan diperhebat persaingan antara kaun Arab yang mendukung al-Amin dan golongan Persia meberi dukungannya kepada al-Ma’mun. Masuk nya unsur Turki dalam kepemerintahan Abbasiyah semakin menambah persaingan antar wilayah. Al-Mu’tashim dan kalifah terdahulunya, al-Watsiq, dapat mengendalikan mereka, akan tetapi khalifah al-Mutawakkil, yang merupakam awal kemunduran politik Bani Abbas ialah khalifay yang lemah, pada zanan kepemerintahannya sehingga orang Turki dapat merebut kekuasaanya dengan begitu cepat. Sesudah al-Mutawakkil meninggal dunia, merekalah yang memilih dan mengankat khalifah, dengan seperti itu kekuasaan tidak lagi berada kepada Bani Abbas. Walaupun mereka masih tetap memegang jabatan sebagai khalifah. Sebenarnya berusaha untuk membebaskan diri dari para perwira Turki, akan tetapi selalu saja gagal, dari 12 ( Dua belas ) khalifah pada masa jabatan kedua hanya 4 (empat ) oramg khalifah yang meninggal dunia secara wajar, dan sisanya telah dibunuh, mereka diturunkan dari jabatannya secara paksa, wibawa khalifah merosot tajam. Setelah pasukam Turki lemah dengan sendirinya di setiap wilayah bermunculan para tokoh hebat yamg kemudian merebut kemerdekaan dari penguasa pusat, dan mendirikan dinasti kecil dan inilah awal disintregasi dalam sejarah Islam. Salah satunya yaitu :

  1. Dinasti yang memerdekakam diri dari dari Baghdad.

Disintregrasi dalam suatu bidang politik sesungguhnya sudah terjadi pada akhir masa Bani Umayyah, tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah, akan Nampak perbedaan antara kepemerintahaan Bani Umayyah demgam lepemerintahaan Bani Abbas. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah dimulai dari pertama berdirinya sampai zaman keruntuhannya, sejajar dengan batas Daerah kekuasaan Islam. Hal seperti ini tidak semuanya benar  diterapkan pada masa kepemimpinan Bani Abbas. Kekuasaan keturunan ini tidak diakui sama sekali didaerah  Spanyol dan semua wilayah Afrika Utara, terkecuali Mesir yang bersifat sangat singkat dan telalu banyak bersifat nominal. Akan tetapi kenyataannya, banyak wilayah  dibawah kekuasaan para gubernur propinsi yang bersangkutan. Hubunganmya denag para khalifah di tandai dengan pembayaran upeti. Ada kemungkinan bahwa khalifah – khalifah Abbasiyah sudah sangat puas dengan pengakuan secara nominal dari propinsi tertentu, dengan pembayaran upeti. Alasam pertama ialah kemungkinan khalifah – khalifah tidak cukup kuat untuk membuat merekaa patuh kepadanya. Kedua, penguasa Bani Abbas lebih memberatkan pembinaan kebudayaan dan peradaban dari pada politik dan ekspansi. Efek dari kebijakan tersebut yamg lebih memberatkan kebudayaan Islam dan peradaban dari pada persoalan politik. Propinsi tertentu nulai terlepas dari penguasa Abbas. Ini bisa terjadi dalam 2 (dua ) cara yaitu :

  1. Seorang pemimpin setempat memimpin pasukan pemberontakan dan berhasil mendapatkan kemenangan seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko.
  2. Seorang yang diangkat menjadi gubernur oleh khalifah, dan kedudukan malah semakin kuat salah satunya adalah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasam.

Terkecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyyah di Maroko, propinsi itu pada awalnya tetap taat membayar upeti selama mereka melihata daerah Baghdad stabil dan para khalifah mampu mengatasi persoalan yang bermunculan, akan tetapi pada saat wibawa khalifah lemah mereka memisahkan diri dari wilayah Baghdad. Mereka bukan saja mengerogoti kekuasaan khalifah bahkan ada segelintir yang berusaha menguasai khalifah. Menurut Watt, sebetulnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai Nampak pada awal abad ke 9 ( Sembilan ) kejadian ini kemungkinan bersamaan dengan datangnya para pemimpin yang mempunyai kekuatan pasukan perang disalah satu propinsi tertentu yamg membuat mereka benar – benar berdiri sendiri kekuatan di bidang kemiliteran Abbasiyah pada saat itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai pengantinya para pemimpin Abbadiyah  mempekerjakan para ahli didalam bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki memakai system perbudakan baru yang dijelaskan diatas, pangangkatan pasukan militer Turki dalam kemajuan berikutnya ternyata menjadi ancaman sangat besar kepada kekuasaan Khalifah. Apalagi pada masa jabatan pertama keturunan Abbasiyah. Bermunculan kepercayaan kebangsaan berupa suatu gerakan kebangsaan atau anti Arab ( syu’ubiyah ) gerakan ini yang banyak mengilhami terhadap gerakan politik, disamping permasalahan keagamaan Meskipun dapat dirasakan hamppir semua dari segi kehidupan, seperti dalam bidang kesastraan dan karya ilmiah, mereka tidak serius menghapuskan kepercayaan tersebut, akan tetapi ada diantar mereka yang melibatkan diri dari konflik keagamaan dan kebangsaan.

  1. Perbutan Kekuasaan di pusat pemerintahan

Peristiwa lain yang dapat menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun ialah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahanya, hal seperti ini sebenarnya sudah terjadi pada pemerintahan terdahulunya, akan tetapi yang terjadi kepada pemerintahan Abbasiyah begitu berbeda dengan kejadian sebelumnya. Rasulullah SAW memang tidak pernah menentukan bagaimna cara pergantian kepemimpinan sesudah ditinggalkannya, Nabi nampaknya menyerahkan persoalan ini kepada kaum muslim sejalan dengan jiwa kerakyatan yang begitu berkembang pada penduduk Arab dan ajaran demokrasi dalam Islam. Dalam kemajuan seterusnya, proses kesuksesan pemimpin politik dalam sejarah Islam begitu berbeda dari zaman ke zamannya, ada yang belangsung aman sentosa dan damai,tepi ada juga melewati konflik dan pertempuran dimedan perang karna ambisi tidak terkendali dari pihak tertentu. Setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, terjadi perdebatan tentang pedapat perbedaam Golongan Muhajirin dan golongan Anshar dibalai kota Bani Sa’idah di kota Madinah.Setiap golongan menyampaikan pendapat bahwa pemimppin harus berada dari bagian mereka, ataupun setidaknya dari setiap golongan mempunyai pemimpin sediri – sendiri, tetapi karna pengertian tentang agama yang begitu baik dan semangat bermusyawarah juga ukhuwah yang begitu tinggi perbedaan pendapat dapat diselesaikan, Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah. Peperangan dalam Islam disebabkan perebutan kekuasaan terjadi pada zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.Pertama kali Ali menghadapi pemberontak Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan pemberontakan itu yaitu Ali tidak menjatuhkan hukuman kepada para pembunnuh Usaman, dan mereka menuntut keadilan terhadap darah Usman dibunuh secara kejam alan tetapi dibalik alasan tersebut, menurut Ahmad Syalabi, Abdullah ibn Zubair yang menyebabkan terjasinya pemberontak yang begitu banyak memakan korban jiwa dia berambisi begitu besar untuk merebut kekuasaan kepemimpinan atau khalifah kemudian ia menghasut bibi dan ibu asuhnya, Aisyah supaya memberontak kepad Ali. Dan berhapar Ali dapat digugurkan dan dia dapat mengantikan posisi Ali, berjuan mendapat posisi khalifah itu pula Muawiyah. Gubernur Damaskus juga memberontak selain banyak menimbulkan korban jiwa Muawiyah berhasil mancapai tujuannya, sementara Ali dibunuh oleh bekas pengikitnya sendiri. Peristiwa pemberontakan yang ada pada zaman Ali bermaksud untuk menjatuhkan dari kursi kepemimpinanya dan dapat diganti oleh pemimpin pemberontak itu, kejadian yang sama juga terjadi pada zaman kepemerintahan Bani Umayyah di wilayah Damaskus kelompok pemberontakan sering terjadi diantaranya pemberontakan yang didalngi oleh Husein ibn Ali, Syi’ah yang dipimpin al-Mukhtar, Abdullah ibn Zubair dan terakhir pemberontakan dimasa Bani Abbas pertama kalinya menggukan nama gerakan Bani Hasyim pemebrontakan ini berhasil dan membangun pemerintahan baru yang dinamai khalifah Bani Abbasiyah atau Bani Abbas.

Demikian pembahasan tentang disintregasi masa Bani Abbasiyah bagi para pembaca yang di rahmati Allah semoga bermanfaat dan jangan lupa Share / bagikan artikel ini kepada semua kalangan dari kami mengucapkan Banyak – banyak terimakasih.

Di riwayatkan oleh      : Dr. Badri Yatim. M.A.