Hakikat Teori Dan Hukum Perkembangan Manusia

Hakikat Teori Dan Hukum Perkembangan

Sebelum ke pembahasan tentang Hakikat Teori Dan hukum Perkembangan dari bab ketiga ini sampai bab yang terakhir nanti seebenarnya berkaitan dengan jawaban dari masalah-masalah yang ada dalam study psikologi perkembangan. Situasi tersebut pada garis besarnya adalah sebagaimana di ungkapkan oleh Sumadi Suryobroto pada tahun (2002a : 170):

  1. Apakah perkembangan itu?
  2. Bagaimana sifat-sifat dan kehidupan anak selama masa perkembangannya anak tersebu?
  3. Hal-hal atau factor-faktor apa sajakah yang memungkinkan dan mempengaruhi perkembangan anak tersebut?

Nah jawaban dari isi pertanyaan yang pertama adalah menyangkut tentang pembahasan hakikat dan teori atau hokum perkembangan, tentu juga bisa diuraikan sebagai berikut ini :

A . Hakikat Perkembangan

Meski semua para ahli sependapat bahwa yang di maksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, Tetapi ada juga  para ahli yang berbeda pendadpat tentang bagaimana proses perubahan tersebut terjadi dalam bentuk yang hakiki. Dalam situasi ini pendapat para tokoh-tokoh dapat di bagi menjdai tiga golongan, yaitu sebagai berikut ini :

1 . Konsep asosiasi dan neo-asosiasi

Dari konsepsi ini, bahwa pada hakikat nya pekembangan itu tiada lain daripada suatu proses asosiasi. Didalam proses asosiasi ini, hal yang primer (penting / pertama) yaitu bagian-bagian sedangkan keseluruhan merupakan hal yang skunder.

Contohnya seperti; pengertian tentang lonceng, terbentuknya pengertian lonceng pada anak mungkin dapat diterangkan sebgai berikut ini : Pertama anak mendengar bunyi loncok anak tersebut mendapatkan kesan mendengarkan, kemudian anak melihat lonceng tersebut tentunya anak tersebut mendapatkan kesan penglihatan dan selanjutnya anak mungkin saja meraba lonceng tadi lalu mendapatkan kesan rabaan. Kesan-kesan dari asosiasi inilah terbentuknya pengertian perkembangan terhadap anak.

Tokoh ahli John locke yaitu salah satu tokoh konsepsi ini dengan teori nya yang dikenal “tabularasa”, dimana pada permulaan jiwa kepada anak itu adalah bersih seperti selembar kertas putih, kemudian sedikit demi sedikiit terisi dengan pengalaman sehari hari pengalaman-pengalaman tersebut membentuk tingkah laku anak. Menurutnya pengalaman itu ada dua macam , yakni sebagai berikut ini;

  • Pengalaman luar, yang di peroleh melalui panca indra
  • Pengalaman dalam, yang di peroleh mengenai pengalaman keadaan dan kegiatan batin yang kemudian menimbulkan reflek.

Ketika muncul juga beberapa tokoh ahli yang berpendapat sifat mendukung konsepssi asosiasi tersebut, karena itu disebukan dengan neo-asosiasi.  Tokoh ahli tersebut adalah Thorndike dengan Konseksionisme nya, J. B. Watson dengan Behaviorisme nya, dan Pavlov dengan Conditioning refleknya.

Tokoh ahli Thorndike berpendapat bahwa perkembangan ada hakikatnya yaitu kumpulan dari kebiasaan yang terus menerus dilakukan, akhirnya membentuk tingkah laku  tertentu yang bersifat kompleks tetapi khas bagi nya.

Tokoh ahli J. B. Watson dan Pavlov berpendapat bahwa perkembangan itu kumpulan dari sejumlah reflek, karena sudah terlatih sedemikian rupa sehingga mebentuk tingkah laku seseorang yang bersifat konstan. Sedemikian dengan kata lain bahwa perkembangan itu proses terbentuknya reflek wajar ( yang terbentuk dengan latihan dan pengalaman.

2 . Konsepsi Gestalt dan Neo-Gestalt

Dari konsepsi ini kebalikan dari konsepsi asosiasi di atas, menurut mereka, perkembangan itu proses differensasi. Ketika dalam proses differensasi yang primer keseluruhan, sedangkan bagian-bagian menduduki tempat yang skunder.kemudian menyusul bagian konsepsi yang mendasarkan pendapat pada proses terjadinya pengamatan. Bisa diberikan contoh sebagai berikut ini yaitu ;

Pada saat kita melihat sebuah kendaraan mobil, maka ketika itu kita mendapat keasan secara keseluruhan dari mobil tersebut apakah colt, bus atau truck kemudian setelah mendekat akan terlihat atau memperhatikan tentang keadaan bagian-bagian dari mobil tersebut entah dari ban nya, mesin nya kaca atau pintu dan sebagai nya.

Dari salah seorang tokoh pendiri konsepsi ini adalah Wertheimer, yang berkesimpulan bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur, ini merupakan gejala gestalt seperti dalam belajar, berpikir dan lain-lain.

Bentuk dari variasi konsepsi ini yaitu Neo-Gestalt yang yang dikemukakan oleh Kurt Lewin dengan teorinya “stratifikasi”. Beliau menggambarkan struktur pribadi manusia sebagai terdiri dari lapisan strata, semakin dewasa seseorang semakin bertambah lapisan itu. Kepada anak kecil kehidupan psikologi nya mula-mula terdiri dari satu lapisan saja mangkanya anak kecil tidak ada hal yang disembunyikan apa yang dinyatakan keluar itulah isi kehidupan nya jika sekiranya anak kecil berdusta, dustanya hanyalah dusta khayalan. Maka dari itu makin tebal lapisan itu seseorang mampu menyembunyikan sesuatu seperti hal nya rahasia atau sifat pribadinya. Konsep dari tokoh ahli ini dapat di terima orang, bukan dalam lapangan  psikologi perkembangan saja tetapi juga dalam lapangan psikologi lainnya.

3 . Konsepsi sosiologisme

Dari konsep ini merupakanperkembangan seorang anak tidak lain dari pada proses sosialisasi nya. Seorang anak mula-mula belum mengenal norma-norma social yang dalam perkembangannya sedikit demi sedikit berubah kearah social melalui proses imitasi, adaptasi dan seleksi, anak-anak meniru segala tingkah laku pada orang dewasa di sekitarnya. Ahli tokoh utama ini konsep ini adalah James Mark Baldwin termasuk juga dalam konsepsi dari pendapat yang di kemukakan oleh Sigmund Freud, bahwa mula-mula anak kecil belum memiliki moral sama sekali, lalu memiliki moral yang bersifat heteronom dan baru setelah dewasa dia memiliki moral otonom. Dari proses perkembangan moral yang heteronom yaitu moral yang pedomanya terdapat di luar, pada orang dewasa/oang tua menjadi moral yang otonom yaitu moral yang pedomannya terdapat dalam diri si anak sendiri, proses ini disebut dengan “internalisasi”.

B . Teori dan Hukum Perkembangan

Sebelumnya di atas sudah diuraikan mengenai hakikat perkembangan, yang pada prinsipnya terdapat tiga pendapat, ada yang mengatakan sebagai proses asosiasi atau disebut sebagai proses differensasi dan ada juga yang mengatakan sebagai proses sosialisasi. Nah sekarang bagaimana proses-proses tersebut berlangsung, apakah berjalan dengan mulus saja ataukah sebaliknya terdapat krisis pada waktu-waktu tertentu, apakah ada percepatan atau pengulangan, disinilah para ahli bermacam tinjauan nya sehingga lahirlah sebagai teori atau hokum-hukum perkembangan yang merupakan kaiadah dalam berlagsungnya proses perkembangan setiap individu.Teori menurut tokoh ahli  Santrock pada tahun (1998) teroti merupakan lawan dari fakta yang mengatakan ” seperangkat ide yang koheren yang membantu menjelaskan data dan membuat prediksi menjadi teori yang berisi hipotesis, asumsi yang dapat diuji untuk menentukan keakuratannya”. Sebenarnya teori hipotesis yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum dketahui secara pasti, sehingga perlu diuji lebih lanjut untuk menentukan akurasinya. Jika apabila dalam pengujian teori itu ternyata benar maka teori tersebut menjadi fakta , setidaknya ada dua peranan penting dari teori perkembangan Miller pada tahun (1993;56); sebagai berikut.

  1. Memberikan pedoman dalam melakukan penelitian dan menghasilkan informasi baru
  2. Mengorganisir dan member makna terhadap fakta-fakta atau gejala perkembangan

Disini telah merangkum tentang 4 teori dan hokum perkembangan itu antara lain adalah sebagai berikut ini;

1 . Hukum Bertahan dan Berkembang Sendiri

Didalam diri anak terdapat dua dorongan yang kuat yaitu meliputi;

  1. Dengan dorongan bertahan, yang bertujuan untuk memelihara/memperthankan diri agar tetap survival.
  2. Dengan dorongan untuk berkembang sendiri, yang berujuan untuk mencari dan mencari, kepandaian, pengalaman atau pengetahuan baru yang terlihat dalam tingkah laku konsevasi dan bermain

2 . Hukum Tempo Perkembangan

Ketika berlangsung nya perkembangan terhadap anak yang satu tidaklah tentu sama dengan anak yang lain. Ada anak yang perkembangannya serba cepat berjalan, cepat berbicara dan lainnya sementara ada pula anak yang Nampak selalu lambat dalam mencapai kemampuannya tersebut.

Dengan tempo perkembangan ini memang dapat di percepat melalui pendidikan dan latihan yang dipaksakan, tetapi hal itu pada akhirnya dapat berakibat tidak baik sebab selain dapat merusak kesehatan jasmani anak juga dapat menimbulkan efek psikologi yang lain. Cepat atau lambat perkembangan anak tersebut berpotensi yang di bawanya sejak lahir, kesehtan dan gizi ikut juga mempengaruhinya.

3 . Hukum Irama Perkembangan

Disisi perkembangan tersebut mempunyai tempo msding-msding, dan juga mempunyai irama tertentu, berlangsungnya perkembangan fungsi pada anak tidaklah selalu berjalan lurus, tetapi berliku-liku bisa melompat-lompat dan penuh kegoyangan. Terkadang kita saksikan seorang anak bisa berjalan dengan cepat, kemudian tertegun/terhenti kemudian berlangsung lagi berjalan dengan cepat. Begitupun ada anak yang kelihatan nya cepat belajar berbicara dalam beberapa minggu kemudian waktu-waktu berikutnya terhenti dan ketinggalan lagi jika dibandingkan dengan teman nya. Tentu irama perkembangan itu bukan saja berneda dari anak yang satu dengan anak yang lainnya, tetapi juga terajdi perbedaan antara fungsi yang satu dengan fungsi yang lain pada diri anak , yang fungsi jasmani nya berkembang dengan cepat tetapi ada aspek fungsi kejiwaan Nampak berjalan lambat, hal ini dapat kita lihat pada diri seorang anak yang mulai berjalan dapat dilihatan dengan perkembangan berbicara agak terhenti dan jika berjalan itu telah dikuasai maka perkembangan bicaranya kelihatan maju dengan cepat.

Sudah jelas disini terdapat keadaan seperti kejar-kejaran bagikan gelombang pada satu fungsi yang menarik dan ada fungsi lain ada yang terhenti atau menurun.

4 .  Hukum Masa Peka

Yang dimaksud dengan masa peka adalah satu masa dimana suatu fungsi berbeda pada perkembangan yang pesat, jika dibandingkan dengan masa lainnya, setiap fungsi hanya mengalami sekali saja datangnya masa peka, karena itu harus dilayani dan di beri kesempatan untuk berkembang terhadap masa ini dengan sebaik-baiknya, sebagai contoh; masa peka untuk berjalan umumnya pada tahun ke dua, masa peka untuk menggambar pada tahun kelima, masa peka untuk perkembangan ingatan logis mulai pada tahun ke dua belas atau tiga belas. Tokoh ahli Montessori pernah mengembangkan system pendidikan nya kearah penemuan masa peka pada anak didik didalam sekolah Montessori menyediakan berbagai macam permainan anak, dan anak diberikan kebebasan untuk memilih sendiri  permainan yang disukainya, apabila minat anak mengarah pada permainan tertentu lalu dicari dan ditentukan bahwa anak tersebut sudah peka terhadap suatu fungsi

 

Demikian penjelasan Tentang Hakikat, Teori dan Hukum perkembangan terhadap anak secara ringkas padat dan jelas dengan bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas tentang psikologi perkembangan anak.

Narasumber dari; Drs. Mubin, M.Ag & Ani Cahyadi, M.Pd.